Selasa, 06 Mei 2014

Antara cita2 dan angan ayah



Curhatan bodohku -,-




Aku masih di dalam kamar sambil menangis , rasanya sakit hati ini melebihi dari diputusin pacar atau di khiannati pacar. Aku menutup wajahku dengan bantal setelah 30 menit aku terdiam dan melihat seluruh bantal basah dengan semua air mataku yang jatuh malam itu, mataku masih sakit perih dan dadaku sesak hidungku sulit untuk bernafas. kejadian malam ini takkan pernah kulupakan!!
Aku gak pernah ngerti sama jalan pikiran orangtua dia hanya bisa memaksaku agar menuruti semua keinginannya tapi di satu sisi mereka tidak tau betapa sakitnya aku dan tertekannya aku , aku tidak mau menampakkan wajah jelekku saat menangis di hadapan mereka jika itu kulakukan maka sama saja menjatuhkan harga diri sendiri. Pertengkaran hebat yang terjadi antara ayah dan anak yang benar2 tak ku inginkan ,sejak malam itu suasana didalam rumah menjadi beda berubah 180 derajat , sudah tidak ada keharmonisan lagi dalam rumah ini, saling bicara seperlunya mementingkan diri sendri dan bodo amat terhadap kehidupan yang lain.
kadang aku berfikir 'apa aku ini masih di anggap anak olehnya?'
Mereka sllu menuntut padaku , aku yang begini adanya mereka tak terima dan  ingin aku menjadi orang lain, kadang aku benci melihat nya padahal dia ayahku sendiri tapi dia gak pernah bersikap baik terhadapku , mengucapkan ulang tahun yang hanya satu tahun sekalipun tidak pernah, aku gak pernah menuntut mereka yang berlebihan.
Rasa sakit di hati ini sebenarnya belum sembuh , selama 18th ini aku masih mengingat kesakitan itu dimasa aku kecil , menangis di depannya tidak membuat dia mengalah. Aku capek terus2an nangis karena dia sekalipun itu adalah ayahku .
Yang aku tau seorang ayah akan melindungi dan mendukung atas semua usaha anaknya dan berusaha mewujudkan impian sang anak. Tapi untuk yang satu ini sepertinya tidak !!! justru aku yang harus mewujudkan impian mereka , lalu impian dan cita-cita aku ? . Jelas aku tidak boleh membenci dia , meskipun dia sudah menghancurkan segalanya di hidupku , aku gak tau lagi harus bercerita dengan siapa , yang mengerti masalah ini hanya aku dan tuhan . Aku takut akan murkanya jika aku membenci ayahku sendiri , tapi aku juga takut kalau dia sampai menuntut lebih banyak lagi terhadap kehidupan ku. Haruskah ku mati dulu agar dia sadar ? haruskah ku terbaring lemah di ranjang agar dia menghentikan egonya dan ambisinya ?


Ayah aku gak pernah ngerti tentang kamu, sama halnya kamu gak pernah ngerti aku ..